Rabu, 11 April 2012

TUGAS II SISTEM INFORMASI PPW

TUGAS II,

SISTEM INFORMASI PERENCANAAN WILAYAH
(MACAM-MACAM CITRA SATELIT)




 





Oleh :
F I R M A N
G2 F1 011 033






PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
 
CITRA SATELIT PENGINDERAAN
JAUH UNTUK PEMETAAN

A.    PENDAHULUAN
Yang dimaksud dengan sistem penginderaan jauh di sini adalah sistem satelit yang merupakan sebuah platform (wahana) yang  membawa sensor-sensor untuk  memotret bumi. Sistem satelit secara keseluruhan merupakan hasil engineering (rekayasa) yang melibatkan  berbagai  disiplin  ilmu  mulai  dari  teknik  elektro,  mesin,  teknik  fisika, matematika,  teknik  material,  informatika,  teknik  aeronautika  termasuk  geodesi  dan sebagainya. Bagaimana agar sistem kontrol satelit bekerja dengan baik, bagaimana agar sistem mekanik satelit bekerja dengan tepat, transfer data, panel surya, akurasi orbit, dan sebagainya tentu saja merupakan hasil kerja sama tim dan tidak bekerja sendiri-sendiri.
            Dalam perkembangannya, sistem penginderaan jauh dibedakan atas dua jenis yaitu sistem penginderaan jauh pasif dan aktif. Di bawah ini akan diuraikan system penginderaan jauh pasif tersebut disertai dengan beberapa contoh terkait.
Penginderaan  jauh  pasif  memanfaatkan  energi  cahaya  yang  diperoleh  dari matahari, yang dipantulkan oleh benda-benda di permukaan bumi. Pantulan energi cahaya tersebut  diterima  oleh  sensor  yang  berada  pada  satelit.  Jadi,  komponen  utama penginderaan jauh pasif terdiri tiga yaitu pertama, matahari sebagai sumber energi utama, kedua, benda yang dikenai energi matahari dan kemudian memantulkannya, dan ketiga, sensor yang menerima pantulan energy dari benda. Dengan kata lain, penginderaan jauh pasif  amat  tergantung  pada  adanya  energi  matahari.  Tanpa  energi  matahari,  system penginderaan jauh pasif ini tidak akan berjalan. Sensor tidak dapat mengindera obyek yang tidak memantulkan energi matahari.
Oleh sebab itu, penginderaan jauh pasif ini hanya dapat berlangsung pada siang hari yaitu pada bagian bumi yang disinari matahari. Satelit-satelit penginderaan jauh pasif seperti Landasat, SPOT, IKONOS dan sebagainya dirancang untuk berada pada posisi yang selaras dengan matahari (sun-synchronous). Artinya, satelit-satelit tersebut memiliki orbit (garis edar) dengan sudut inklinasi sekitar 95 hingga 100 derajat terhadap ekuator ke arah kutub utara bumi agar satelit tersebut berada pada bagian bumi yang terang (siang) dan untuk memperoleh citra penginderaan jauh yang maksimum.
Namun  demikian,  pengaruh  tutupan  awan  dekat  permukaan  bumi  amatlah mempengaruhi hasil penginderaan jauh pasif ini. Tutupan awan akan menutupi daerah yang dipotret (direkam) sehingga akan menyulitkan proses analisis obyek yang berada di bawah tutupan awan maupun yang berada dalam bayangan awan itu sendiri.
Sistem inderaja pasif adalah sistem yang mula-mula dikembangkan orang. Saat ini telah  demikian  banyak  satelit  yang  menggunakan  sistem  inderaja  pasif  ini.  Sistem inderaja pasif bekerja dengan menggunakan prinsip-prinsip optis. Oleh karena itu system ini amat tergantung pada energi matahari. Sistem-sistem satelit yang akan dibahas dalam modul ini mencakup sistem satelit yang paling sering digunakan khususnya di Indonesia seperti Landsat, SPOT, NOAA, IKONOS, QuickBird, serta satelit hasil karya bangsa Indonesia yaitu satelit LAPAN-TUBSAT. Juga dibahas mengenai beberapa sensor yang dimuat  dalam  satelit-satelit  tertentu  seperti  sensor  ASTER  dan  MODIS  pada  satelit TERRA.
Dalam   pembahasan   menyangkut   citra   akan   ditemui   istilah   pankromatik, multispektral dan hiperspektral. Pankromatik adalah citra yang terlihat berwarna hitam putih yang memuat semua panjang gelombang cahaya tampak dari rentang spektral 0,4-0,7 µm. Multispektral adalah citra yang terdiri dari beberapa band mulai dari spectrum inframerah hingga cahaya tampak. Sedangkan hiperspektral adalah citra yang terdiri dari sangat banyak band spektral mulai dari inframerah hingga cahaya tampak dengan lebar band yang sangat sempit sehingga dapat mencapai puluhan bahkan ratusan band.


II.  LANDSAT

Landsat-1  merupakan  satelit  pertama  yang diluncurkan  dengan  misi  utama  pemantauan  bumi (Earth Observation Satellite-EOS). Diluncurkan pada tahun  1972  oleh  Amerika  Serikat.  Sukses  dengan Landsat-1,  berturut-turut  diluncurkan  satelit LANDSAT-2,  3,  4,  5  dan  7.  LANDSAT-6  gagal diluncurkan.   Saat   ini,   LANDSAT-7   merupakan satelit utama dalam observasi sumberdaya bumi. LANDSAT-5   dilengkapi   dengan MSS  (multispectral  scanner)  dan  TM  (thematic mapper). Sensor MSS merupakan sensor optis yang dirancang untuk keperluan perekaman energi radiasi matahari  yang  dipantulkan  oleh  obyek-obyek  di  permukaan  bumi  pada  empat  band spektral yang berbeda. Sensor TM merupakan versi yang lebih canggih dari keseluruhan perangkat yang ada pada sensor MSS, yang mampu merekam pantulan radiasi matahari dari benda-benda di permukaan bumi dalam tujuh band spektral yang berada dalam spektrum cahaya tampak hingga infra merah panas (thermal infrared).
Ketujuh band spektral tersebut adalah biru-hijau (band 1), hijau (band 2), merah (band 3), infra merah dekat (band 4), infra merah tengah (band 5 dan 7) dan infra merah panas (band 6). Berikut karakteristik band spektral sensor TM :
1.        Band 1 digunakan untuk mendeteksi wilayah perairan seperti laut, danau, sungai dan sebagainya  dan  untuk  membedakan  obyek  tanah  dan  tumbuhan  serta  untuk membedakan jenis-jenis tanaman tertentu pada suatu areal yang heterogen.
2.        Band  2  dari  sensor  TM  tersebut  mampu  mendeteksi  pantulan  sinar  hijau  yang dipantulkan oleh tanaman sehat.
3.        Band 3 didesain untuk mendeteksi tingkat penyerapan radiasi cahaya matahari oleh klorofil tumbuhan.
4.        Band  4  infra  merah  dekat  digunakan  juga  dalam  mendeteksi  tingkat  kesehatan tanaman, misalnya padi, kelapa sawit, kakao, teh dan tanaman-tanaman ekonomis lainnya.  Deteksi  dilakukan  untuk  mengetahui  adanya hama  dan  penyakit  pada tanaman tersebut.
5.        Dua band infra merah tengah dengan panjang gelombang yang berbeda digunakan dalam studi vegetasi dan kelembaban tanah serta untuk membedakan jenis tanah dan batuan tertentu.
6.        Band infra merah panas selain digunakan dalam pemetaan termal juga dipakai untuk studi-studi yang terkait dengan vegetasi dan kelembaban tanah.
Dengan resolusi spektralnya yang mencapai 7 band tersebut citra Landsat TM memungkinkan   untuk   dimanfaatkan   pada   beragam   aplikasi   utamanya   pemetaan sumberdaya alam. Sebelum lahirnya satelit-satelit generasi baru dengan resolusi spasial yang tinggi (di bawah satu meter), boleh dikatakan bahwa citra Landsat memegang peranan yang amat sentral dalam mendukung pemetaan dan monitoring sumberdaya alam di seluruh dunia. Dengan cakupan citranya yang mencapai 185 km x 185 km, citra Landsat sangat intens digunakan oleh para pakar dan analis dalam mempelajari berbagai fenomena maupun potensi sumberdaya bumi.


            Satelit Landsat 7 berhasil diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Udara AS di Vandenberg California pada tanggal 15 April 1999. Satelit Landsat-7 tersebut memiliki berat sekitar 2.500 kg dengan ketinggian orbit sekitar 705 km di atas pemukaan bumi dan sudut inklinasi orbit 98,2 derajat terhadap bidang ekuator. Periode pemotretan ulang pada suatu  tempat  (revisit  period  atau  resolusi  temporal)  adalah  16  hari.  Artinya,  Satelit Landsat-7 tersebut akan memotret tempat yang sama setiap 16 hari sekali.
Satelit Landsat-7 ini membawa serta sensor Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) sehingga satelit ini dinamakan juga Landsat-7 ETM+ atau Landsat ETM+. Sensor ETM+ digunakan sebagai pengganti sensor TM pada Landsat-5. Satelit tersebut menggunakan sistem operasi telemetri S-Band dan instrumen transfer data X-Band. Salah satu kelebihan dari sistem satelit Landsat ETM+ ini adalah adanya penambahan satu band yaitu band 8 pankromatik dengan resolusi spasial 15 meter. Periode orbit satelit Landsat-7 98,9 menit dan dengan lebar sapuan (swath) 185 kilometer, revisit period 16 hari maka jumlah lintasan orbitnya adalah 233 lintasan.


            Data citra Landsat telah digunakan secara luas baik oleh pemerintah, dunia usaha, kalangan perguruan tinggi, industri dan sebagainya. Citra Landsat sangat popular hingga saat ini. Aplikasinya sangat beragam misalnya untuk kehutanan, pertanian, perubahan tutupan lahan, geologi,  manajemen  sumberdaya alam,  geografi, pemetaan,  hidrologi, oseanografi  dan  sebagainya.  Citra  Landsat  juga  sering  digunakan  untuk  menilai perubahan tata guna lahan mulai dari hitungan beberapa bulan hingga puluhan tahun.
            Di Indonesia terdapat beberapa penyedia data Landsat baik milik pemerintah maupun swasta. Secara resmi pemerintah menunjuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai provider (penyedia) citra satelit Landsat dan beberapa jenis citra satelit lainnya. Untuk memperoleh citra Landsat kita harus mengetahui terlebih dahulu nomor jalur (path raw) dari citra yang diinginkan. Setelah memastikan nomor jalur (baris, kolom) citra maka kita tinggal menghubungi pihak LAPAN bagian Penginderaan Jauh  untuk  membelinya.  Gambar  4  memperlihatkan  gambar  jalur  perekaman  satelit Landsat di wiayah Indonesia.


III. SPOT

 

 
Selain Landsat, citra satelit yang paling banyak digunakan adalah SPOT. Satelit SPOT (Systeme Pour l’Observation de la Terre) merupakan proyek  prestisius Pemerintah  Perancis  melalui  CNES  (Centre National d’Etudes Spatiales), badan antariksa nasional  Perancis.  Saat  ini  program  SPOT tersebut  telah  menjadi  program  internasional ditandai dengan keberadaan stasiun penerimaan bumi dan outlet distribusi data pada lebih dari 30  negara  di  seluruh  dunia.  Satelit  SPOT  membawa  sensor  pankromatik  dan  multispektral.  Citra  SPOT  telah  dimanfaatkan untuk berbagai tujuan seperti untuk pemetaan, pengelolaan sumberdaya alam, perkiraan panen, pengembangan  dan  pengelolaan  wilayah,  eksplorasi  minyak  dan  gas  bumi,  geologi, manajemen kebencanaan, kontrol polusi dan sebagainya.
Terdapat 5 generasi satelit SPOT yang dikembangkan oleh CNES bekerjasama dengan Belgia dan Swedia. Empat satelit SPOT sebelumnya, yaitu SPOT 1, 2, 3, dan 4 diluncurkan tahun 1990, 1993, 1998 dan terbaru berupa generasi SPOT 5 diluncurkan tahun 2002 (tepatnya tengah malam antara tanggal 3 dan 4 Mei 2002). Satelit SPOT-5 diluncurkan dari pusat peluncuran Guiana Space Centre di Kourou, Guyana (Perancis). Ketinggian orbit satelit sekitar 822 kilometer di atas permukaan bumi, sudut inklinasi orbit 98.7°, sun-synchronous (selaras dengan matahari) dan waktu melintasi ekuator pada jam 10.30 waktu setempat.
Dengan cakupan citra yang cukup luas (60 km x 60 km) dan resolusi spasial yang cukup tinggi, citra satelit SPOT 5 daat digunakan untuk pemetaan skala menengah hingga skala besar besar yaitu 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000. Karakteristik band spektral dari citra satelit SPOT-5 :
                                                                          
a.    Band Pankromatik dengan panjang gelombang 0,48-0,71 µm, memiliki resolusi spasial 2,5 meter
b.    Band multispektral dengan panjang gelombang Green: 0,5-0,59 µm, Red: 0,61-  0,68 µm, Near Infra Red: 0,78-0,89 µm, masing-masing memiliki resolusi spasial 10 meter
c.    Band Shortwave Infra Red: 1,58-1,75 µm, memiliki resolusi spasial 20 meter
Citra SPOT Multispektral direkam dengan menggunakan sensor dengan membuat sapuan terhadap permukaan bumi (pushbroom scanner) dan beresolusi tinggi, yaitu High Resolution Visible (HRV). Citra SPOT pankromatik dapat dibuat stereo dimana sensor pada satelit diputar ke arah lokasi yang direkam. Arah putaran maksimum sebesar 27° ke arah kiri atau kanan pada lintasan orbitnya. Pemutaran sensor untuk daerah ekuator dapat dilakukan tujuh kali selama periode 26 hari atau setiap empat hari, dan di daerah dekat kutub dapat dilakukan 13 kali selama periode 26 hari atau setiap dua hari.

 
Pada satelit SPOT dikenal adanya suatu sistem yang disebut SPOT Vegetasi.  Sistem instrumen vegetasi pada satelit SPOT merupakan hasil dari kerjasama antara negara Uni Eropa, Perancis, Swedia, Belgia, dan Italia. Tujuannya adalah menjamin pengawasan secara regional dan global terhadap biosfer kontinental dan tanaman.
Sistem instrumen vegetasi diikutsertakan dalam wahana satelit SPOT 4 yang diluncurkan pada tanggal 24 Maret 1998. Sampai saat ini sensor sistem peralatan vegetasi masih aktif dan akuisisi citra masih berlanjut. 
Sensor instrumen vegetasi pada satelit SPOT 4 melakukan sapuan pada wilayah yang sangat luas yaitu 2.250 km, yang disebabkan oleh resolusinya yang kasar dan ukuran piksel sebesar 1.165 meter. Peralatan instrumen vegetasi dilengkapi dengan instrument HRV yang berada dalam satelit SPOT 4 untuk mengamati seluruh bumi setiap harinya yang mana hal ini disebabkan oleh jarak pandang yang luas. Disamping memiliki saluran yang sama  dengan sensor SPOT multispektral, sensor instrumen  vegetasi  membawa saluran ekstra, yaitu saluran BO, yang peka terhadap panjang gelombang 0,43 – 0,47 µm.
Sistem instrumen vegetasi merupakan peralatan yang penting bagi studi vegetasi global, dan juga telah dirancang untuk pengambilan keputusan dalam bidang pertanian, pengawasan terhadap penebangan hutan dan degradasi hutan serta pengaturan sumber daya  alam.  Studi  tentang  efek  rumah  kaca  (green  house  effect)  disebabkan  oleh penumpukan  karbondioksida  di  atmosfer  juga  telah  dibantu  oleh  pencitraan  dengan instrumen vegetasi SPOT 4 tersebut.
IV. IKONOS
            Satelit IKONOS merupakan satelit penginderaan jauh  milik Amerika Serikat. Satelit  IKONOS  diluncurkan  pada  tanggal  24  September  1999.  Satelit  IKONOS dikembangkan  oleh  sebuah  badan  antariksa  komersial  Amerika  Serikat  yaitu  Space Imaging yang didirikan di Denver Amerika Serikat pada tahun 1994. Tujuan pendirian Space  Imaging  ini  adalah  untuk  membangun  dan  mengembangkan  sistem  satelit penginderaan bumi beresolusi tinggi yang pertama di dunia. Cita-cita tersebut terwujud dengan diluncurkannya satelit IKONOS yang memiliki resolusi spasial hingga 1 meter dengan lebar sapuan mencapai 11 km x 11 km.

            Berat satelit IKONOS mencapai 800 kilogram dengan inklinasi orbit 98,1 derajat terhadap ekuator dan sun synchronous (selaras dengan matahari) pada ketinggia 681 km di atas permukaan bumi. Satelit IKONOS tersebut melintasi wilayah ekuator (termasuk Indonesia) pada pukul 10.30 pagi dan waktu yang diperlukan untuk memotret daerah yang sama (revisit period) adalah 1 hingga 3 hari. Sampai pada tingkat skala peta tertentu, citra hasil pengi8nderaan jauh dengan satelit IKONOS ini dapat menyamai kualitas foto udara. Saat ini, satelit IKONOS telah menjadi solusi alternatif untuk melakukan pemetaan.

V.  EARLYBIRD-1 (gagal)


Sebelum IKONOS dikembangkan  DigitalGlobe, salah satu perusaahan swasta penyedia  citra  satelit,  meluncurkan  satelit komersial pertama pada 24 Desember 1997 yang  diberi  nama  EARLYBIRD-1.  Satelit tersebut merupakan salah satu satelit yang menempati orbit dekat permukaan bumi (low earth orbit). Resolusi spasialnya mencapai 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter  untuk citra multispektral. Akan tetapi, empat hari setelah diluncurkan, pada 28 Desember 1997, para insinyur dan teknisi DigitalGlobe menyatakan terputusnya sama sekali komunikasi antara satelit dan stasiun kontrol di bumi (ground control station). Oleh sebab itu, misi EARLYBIRD-1 dinyatakan gagal.

VI.  QUICKBIRD


 
Generasi berikut dari satelit-satelit DigitalGlobe adalah QuikBird. Satelit tersebut  diluncurkan  pada  tanggal  18  Oktober  2001 dari pangkalan  angkatan  udara AS di Vandenber Air Force Base, California. Satelit QuickBird   merupakan   salah   satu   satelit resolusi  spasial  tinggi  yaitu  di  bawah  satu  meter dalam cakupan yang luas. Berat satelit mencapai 950 kg. Sensor satelit Quickird menghasilkan citra pankromatik dengan resolusi spasial 0,61  meter,  sedangkan citra multispektral memiliki resolusi spasial 2,4 meter. Cakupan citra mencapai 11 km x 11 km hingga 11 km x 225 km untuk citra strip map.  
Satelit QuickBird berada pada orbit dengan ketinggian 450 km di atas permukaan bumi.  Revisit  period-nya  antara  1  hingga  3,5  hari.  Mirip  dengan  IKONOS,  citra QuickBird  banyak digunakan  untuk aplikasi-aplikasi  yang  menuntut  ketelitian  tinggi seperti pemetaan, penilai properti, perpajakan dan sebagainya.


 
VII.  ENVISAT
                        Pada  1  Maret  2002,  Agen  Ruang  Angkasa  Eropa  (European  Space  Agency) meluncurkan Envisat, satelit observasi bumi yang menyediakan data pengamatan dan pengukuran dari angkasa menyangkut kondisi permukaan bumi, samudera, lahan, dan es di kutub. Satelit Envisat mempunyai satu beban inovatif dan ambisius dimana misi yang diembannya  adalah  memastikan  kesinambungan  (kontinuitas)  data  pengamatan  dan pengukuran dari satelit-satelit penginderaan jauh untuk pengamatan bumi (Earth remote sensing satellite) milik ESA. Data Envisat mendukung penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan mengenai pemantauan lingkungan dan perubahan iklim. Lebih lanjut, data itu akan memudahkan pengembangan terapan-terapan komersial dan operasional.
Satelit ENVISAT memiliki revisit period 35 hari dan mengorbit pada ketinggian 800 km di atas permukaan bumi. Berat satelit mencapai 8211 kg.


VIII. FORMOSAT


 
                 Satelit  FORMOSAT-2  merupakan  satelit  miliki  Taiwan  yang  dirancang  oleh. Organisasi Antariksa Nasional Taiwan atau National Space Organization (NSPO). Satelit FORMOSAT-2  berhasil  diluncurkan  ke  orbitnya  pada  tanggal  21  Mei  2004.  Satelit FORMOSAT-2  memiliki   sensor penginderaan   jauh  untuk  menghasilkan  citra pankromatik dengan resolusi spasial 2 meter dan citra multispektral dengan ketelitian 8 meter. Misi utama dari satelit FORMOSAT-2 ini adalah untuk menghasilkan citra seluruh negara Taiwan dan juga seluruh dunia baik di darat maupun di laut.
                 Citra yang direkam oleh satelit FORMOSAT-2 dapat digunakan untuk beragam aplikasi seperti pertanahan, penelitian sumberdaya alam, kehutanan, proteksi lingkungan serta mitigasi bencana dan sebagainya. Beberapa karakteristik dari satelit FORMOSAT-2 adalah :
1.      Berat sekitar 760 kilogram dengan bentuk heksagonal
2.      Memiliki orbit sun synchronous (selaras dengan matahari)
3.      Ketinggian orbit sekitar 891 kilometer di atas permukaan bumi
4.      Lebar sapuan (swath) 24 x 24 km
5.      Didesain untuk beroperasi selama 5 tahun
6.      Melintasi wilayah Taiwan dua kali dalam sehari
7.      Periode orbit sekitar 103 menit
                 Perlu ditambahkan pula bahwa satelit FORMOSAT-2 ini merupakan satelit pertama dan satu-satunya satelit yang memiliki kemampuan revisit period satu hari, sehingga seperti di sebutkan di atas, satelit dapat melintasi negara Taiwan sebanyak dua kali dalam sehari

IX.  ALOS


 Satelit   ALOS   (Advanced   Land Observation Satellite) sukses diluncurkan pada tanggal 24 Januari 2006 dari Pusat Ruang   Angkasa   Tanegashima,   Jepang. Satelit   ALOS   merupakan   satelit   milik badan   antariksa  Jepang.  Satelit   ALOS memiliki   tiga   instrumen   penginderaan jauh : Instrumen           Penginderaan  Pankromatik  yang  dapat memperoleh gambaran  permukaan  bumi  secara  tiga dimensi,  perangkat  AVNIR-2  (Advanced Visible and Near Infrared  Radiometer type 2) untuk pemetaan tutupan permukaan bumi secara teliti dan instrumen PALSAR (Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar) untuk penginderaan pada siang dan malam hari serta dalam segala kondisi cuaca untuk menghasil gambaran permukaan bumi secara teliti. Peta yang dihasilkan dari citra satelit ini dapat digunakan untuk pemetaan hingga skala 1 : 25.000. Beberapa aplikasi yang dapat dilakukan menggunakan data citra ALOS ini adalah monitoring dan mitigasi bencana, survey sumberdaya alam dan untuk keperluan perencanaan pembangunan  suatu daerah.
                 Beberapa karakteristik satelit ALOS adalah sebagai berikut :
1.       Resolusi spasial mencapai 2,5 meter untuk citra pankromatik dan 10 meter untuk citra multispectral.
2.       Berat satelit mencapai 4.000 kilogram
3.      Didesain untuk beroperasi selama 3 hingga 5 tahun
4.      Orbit sun synchronous (selaras dengan matahari)
5.      Revisit period (memotret tempat yang sama) setiap 46 hari
6.      Ketinggian orbit 692 km di atas permukaan bumi
7.      Sudut inklinasi orbit sekitar 98,2 derajat terhadap bidang ekuator

X.  LAPAN-TUBSAT

Satelit Mikro LAPAN-TUBSAT adalah satelit mikro pertama milik Indonesia yang merupakan produk kerjasama antara LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)  dengan  Technical  University  of  Berlin,  Jerman.  Misi  satelit  adalah  untuk memonitor (surveillance) dan sebagai satelit percobaan (technology experiment).
Satelit LAPAN-TUBSAT diluncurkan pada tanggal 10 Januari 2007 pukul 10.30 WIB, menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle-C7 (PSLV-C7) milik India dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, Sriharikota, India. Satelit LAPAN-TUBSAT tersebut diluncurkan bersama dengan dua satelit lain milik India dan Argentina, serta sebuah kapsul  penelitian  antariksa  milik  India.  Satelit  LAPAN-TUBSAT  mengorbit  pada ketinggian 630 km di atas permukaan bumi dengan sudut inklinasi (kemiringan terhadap ekuator) 98,9 derajat. Satelit tersebut dikendalikan dari pusat pengendali LAPAN di Rumpin-Bogor.


                 Satelit mikro (mikrosat) LAPAN-TUBSAT dengan Technical University of Berlin ini memiliki dimensi (ukuran) hanya 45 x 45 x 27 cm dengan berat sekitar 56 kilogram, LAPAN-TUBSAT  membawa  sistem  transmisi  data  S-band,  sebuah  video  kamera berwarna resolusi tinggi hingga 5 meter dengan swath (luas cakupan) 3,5 kilometer, video kamera berwarna resolusi rendah 200 meter dengan swath 81 kilometer, dan system penyimpan dan penerus pesan pendek dengan transmisi telemetry & telecommand pada frekuensi UHF dengan bandrate 1200 bps (bit perdetik). Tenaganya penggerak satelit dibangkitkan dari empat buah solar panel dengan dimensi 432 x 243 mm.
                 Sebagai satelit surveillance, LAPAN-TUBSAT dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi dari dan ke berbagai pelosok yang cukup banyak di Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.
                 Peristiwa mengorbitnya satelit LAPAN-TUBSAT ini membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sudah mampu mandiri dalam penguasaan teknologi satelit. Satu langkah kemajuan  yang  telah  dibuktikan  oleh  putra  Indonesia  bahwa  sumber  daya  manusia Indonesia mampu setara dengan bangsa lainnya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa. Perjalanan yang cukup panjang dan mendebarkan sudah terlewati, dan satelit yang merupakan hasil karya anak bangsa dan kebanggaan bangsa Indonesia saat ini telah berada di antariksa.


 
Salah  satu  kelebihan  dari  satelit  LAPAN-TUBSAT  ini  dibandingkan  dengan beberapa  satelit  miliki  Amerika  Serikat  maupun  Eropa  (misalnya  Landsat,  SPOT, IKONOS,  MODIS  dan  sebagainya)  adalah  adanya  kamera  video  yang  dikendalikan langsung dari stasiun bumi untuk melakukan pemotretan wilayah Indonesia dan hasilnya dapat  dilihat  secara  real  time  (seketika).  Dengan  sistem  real  time  ini,  kita  dapat memperoleh data yang terbaru sesuai dengan kebutuhan.

XI. WORLDVIEW-1

 
Satelit WorldView-1 adalah satelit resolusi spasial tinggi yang melengkapi satelit-satelit resolusi tinggi lainnya seperti Ikonos dan QuickBird. Satelit WorldView-1 merupakan satelit milik  DigitalGlobe  salah  satu  provider  satelit terkemuka  di  dunia.  Satelit WorldView-1  diluncurkan  dari  pangkalan angkatan udara Amerika Serikat di Vandenberg Air Force Base, California pada tanggal 18 September 2007.  Resolusi spasial citra satelit WorldView 1 adalah 0,5 meter (sangat tinggi). Satelit tersebut. 
Resolusi spasial citra satelit WorldView-1 adalah 0,5 meter (sangat tinggi). Satelit tersebut mengorbit pada ketinggian 496 kilometer di atas permukaan bumi dengan revisit period (resolusi temporal) mencapai 1,7 hari (kurang dari 2 hari) dengan cakupan citra dalam sehari dapat mencakup wilayah seluas 750.000 kilometer persegi. Berat satelit mencapai 2500 kg.
Oleh karena band spektral yang dimiliki satelit tersebut adalah pankromatik maka satelit tersebut hanya mengirimkan citra pankromatik (tampak hitam putih), tanpa citra multispektral seperti halnya IKONOS maupun QuickBird. Program Satelit WorldView-1 dilanjutkan dengan WorldView-2. Berbeda dengan WorldView-1, WorldView-2 akan memiliki band multispectral (sejumlah 8 band) disamping band pankromatik sebagaimana halnya pada satelit WorldView-1.

XII. TERRA


TERRA (disebut juga EOS AM-1) merupakan satelit pemantau bumi yang diluncurkan pada 18 Desember 1999. Misi satelit TERRA didesain akan berlangsung selama enam tahun. TERRA  sesungguhnya  merupakan  platform (wahana) dari beberapa sensor pemantau bumi yang disiapkan oleh beberapa negara sebagai bentuk  kerjasama  diantara  mereka.  NASA sebagai  pemilik  TERRA  menyediakan  bus satelit   dan   sistem-sistem   sensor   CERES, MODIS    dan  Jepang menyediakan sensor ASTER.  Kanada menitipkan  sensor  MOPITT  pada  platform TERRA. TERRA diluncurkan dengan orbit polar, sun-synchronous pada ketinggian 700 hingga 737 km (705 km di ekuator), sudut inklinasi 98,2º, recurrence cycle 16 hari di ekuator, periode orbit 98,88 menit.

12.1  Sensor ASTER

ASTER   (Advanced   Spaceborne   Thermal   Emission   and   Reflection   Radiometer) merupakan salah satu instrument yang dipasang pada satelit TERRA. TERRA merupakan satelit Earth Observing System (EOS) milik NASA. ASTER merupakan hasil kerjasama antara  NASA  dengan  Kementerian  Ekonomi,  Perdagangan  dan  Industri  Jepang  dan Japan's Earth Remote Sensing Data Analysis Center (ERSDAC). ASTER dimanfaatkan untuk  mengumpulkan  data  permukaan  bumi,  sumberdaya  lahan,  temperatur  dan  ketinggian permukaan bumi..
ASTER dapat  mengambil potret permukaan  bumi dalam resolusi spasial dan spektral tinggi. Resolusi spasialnya 15 meter. Resolusi spektralnya mencapai 14 band mulai dari spektrum cahaya tampak hingga infrared termal (panas). Kemampuan lainnya adalah menyediakan citra stereo yang menghasilkan model ketinggian digital (digital elevation model).


 
12. 2 Sensor MODIS


 Instrumen   MODIS   (Moderate   Imaging   Spectroradiometer)   sudah   dirancang   dan dikembangkan   sejak   tahun   1995.   MODIS sesungguhnya  merupakan  sensor  dari  satelit Terra (pemantau daratan) dan Aqua (pemantau lautan).  Pada  tahun  1995,  Protoflight  Model (PFM)  di  dalam  Terra  Satellite  dan  Flight Model 1 (FM1) di dalam Aqua Satellite telah diselesaikan dan siap diluncurkan.  Terra diluncurkan pada 18 Desember 1999, dan Aqua diluncurkan   pada  4   Mei  2002.  Instrumen-instrumen MODIS yang dibangun untuk spesifikasi NASA oleh Santa Barbara Remote Sensing menunjukkan rancang-bangun perangkat keras spaceflight tersebut tergolong yang terbaik untuk penginderaan jauh.
            MODIS adalah suatu instrumen kunci di dalam satelit-satelit Terra (EOS AM) dan Aqua (EOS PM). Garis edar Terra MODIS mengelilingi Bumi diatur waktunya sehingga akan lewat dari utara ke selatan menyeberangi garis katulistiwa di waktu pagi, sementara Aqua MODIS akan lewat dari selatan ke utara di atas garis katulistiwa sore harinya. Terra MODIS dan Aqua MODIS mengamati seluruh permukaan bumi setiap 1 sampai 2 hari, memperoleh data dalam 36 band spektral, atau kelompok panjang gelombang. Data ini akan menambah pemahaman kita mengenai dinamika dan proses-proses global yang terjadi di daratan, di dalam samudra-samudra, dan di dalam lapisan atmosfer yang lebih rendah (dekat dengan permukaan bumi).
            MODIS sangat ideal untuk monitoring perubahan berskala besar dalam biosfer yang akan menghasilkan pemahaman yang mendalam terhadap kerja daur karbon secara global. Saat tidak ada sensor satelit yang dapat secara langsung mengukur konsentrasi-konsentrasi  gas  karbondioksida  dalam  atmosfer,  MODIS  dapat  mengukur  aktivitas fotosintetis   lahan   dan   tumbuh-tumbuhan   laut   (fitoplankton)   yang   menghasilkan karbondioksida  dan  memberikan  pemahaman  kepada  kita  seberapa  besar  efeknya terhadap  pemanasan  global.  Dengan  menggabungkan  hasil  analisis  data  pemantauan MODIS dan hasil pengamatan sensor pengukur temperatur permukaan, membantu para ilmuwan  melacak  sumber  dan  konsentrasi  gas  karbondioksida  sebagai  jawaban  atas perubahan iklim yang terjadi.
 
 
 
Salah  satu  kelebihan  dari  MODIS  ini  adalah  banyaknya  band  spektral  yang dimilikinya sehingga termasuk dalam satelit dengan sensor hyperspektral. 36 spektrum gelombang elektromagnetik yang dihasilkan MODIS, memberi kesempatan pada para  ilmuwan untuk mempelajari karakteristik bumi dan laut hanya dengan menggunakan satu instrumen saja.  Citra daratan  yang dihasilkan  oleh Terra MODIS didapat dari  hasil reflektansi tiga gelombang yaitu 645 nm (red), 555 nm (green), 469 nm (blue).
Kombinasi dari tiga band ini menghasilkan warna yang hampir sama dengan warna yang ditangkap mata kita (MODIS True Color). Kemampuan mengkombinasikan pantulan  cahaya  matahari  dan  temperatur  permukaan  bumi  menggunakan  spectrum radiasi termal (panas) pada panjang gelombang 3,9 dan 4,0 µm menghasilkan kemampuan MODIS untuk merekam perbedaan temperatur permukaan air. Hal ini bermanfaat dalam studi-studi zona sebaran fiktoplankton untuk mendeteksi pola sebaran ikan dan zona tangkapan nelayan.

12.3  Sensor MOPITT

MOPITT adalah satu instrumen yang dirancang untuk memberikan informasi mengenai kondisi  lapisan  atmosfer  yang  berada  dekat  dengan  permukaan  bumi.  Sensor  yang dipasang pada satelit TERRA mengirimkan informasi mengenai kondisi daratan dan biosfir samudera. Fokus utama sensor ini adalah pada data sumber dan distribusi gas karbon monoksida serta metana dalam lapisan troposfir.
            Metana adalah satu gas rumah kaca dengan hampir 30 kali lipat dari pada karbon dioksida  dalam  mempengaruhi  pemanasan  global.  Gas  metana  berasal  dari  proses pembusukan di rawa, kotoran ternak, dan biomass yang terbakar dan sebagainya. Karbon monoksida berasal dari buangan asap pabrik, mobil, dan kebakaran hutan dan sangat merugikan dimana gas tersebut merintangi kemampuan alami atmosfir untuk mengurai polutan (penghasil polusi) berbahaya.
            MOPITT adalah sensor satelit pertama yang memasang spektroskopi gas. Sensor merekam  pantulan  gelombang  EM  dari  permukaan  bumi  dalam  tiga  band  spektral. Resolusi MOPITT adalah 22 km pada titik terendah (nadir) dan lebar sapuan 640 km. Sensor akan mengukur konsentrasi karbon monoksida pada lapisan atmosfer 5-km di atas permukaan bumi secara vertikal untuk membantu para ilmuwan menjejaki gas penyebab efek rumah kaca untuk mengetahui sumbernya.

XIII. NOAA/AVHRR

 
Amerika Serikat memulai program eksperimental pengamatan lingkungan dan cuaca  secara  global  pada  tahun  1960  dengan  meluncurkan  satelit  penginderan  jauh eksperimental Television Infrared Observation Satellite (TIROS). Setelah sepuluh kali meluncurkan  jenis  satelit  ini  kemudian  kemudian  disusul  satelit  tahap  kedua  yakni Improved TIROS Operational Satellite (ITOS) yang dikenal secara komersial dengan nama satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) karena dikelola oleh NOAA.  Generasi ketiga dimulai dengan diluncurkannya seri TIROS-N pada tahun 1978. satelit ini dilengkapi dengan sensor canggih yang dikenal dengan nama Advanced Very High Resolution Radiometer (AVHRR) oleh karenanya satelit generasi ketiga ini dikenal juga dengan sebagai satelit NOAA-AVHRR.
Tujuan utama dari satelit NOAA-AVHRR adalah untuk mengamati secara akurat temperatur dan humiditas atmosfer, suhu permukaan laut, penutupan awan, dan batas air-es di lautan. Satelit NOAA merupakan salah satu sumber data utama bagi pengamatan lingkungan bumi terutama kelautan. Band Spektral pada AVHRR ditampilkan dalam tabel 2:

 
1.      Band 1 menyediakan data harian tentang awan, salju dan es.
2.      Band 2 mengamati batas permukaan air, serta kajian vegetasi global.
3.      Band 3 untuk menentukan batas darat-laut, aktifitas gunung berapi & kebakaran
4.      hutan.
5.      Band 4 untuk pengamatan suhu permukaan laut maupun daratan serta moisture tanah,
6.      Band 5 khusus untuk pengamatan suhu permukaan laut.

Beberapa data lainnya :
 Hingga saat ini tercatat ada 18 buah satelit NOAA-AVHRR yang berada di angkasa.  Berikut  ini  ditampilkan  data  seluruh  satelit  NOAA-AVHRR  sejak  pertama diluncurkan (TIROS-N) hingga NOAA-18.
Hingga saat ini tercatat ada 18 buah satelit NOAA-AVHRR yang berada di angkasa.  Berikut  ini  ditampilkan  data  seluruh  satelit  NOAA-AVHRR  sejak  pertama diluncurkan (TIROS-N) hingga NOAA-18.


REFERENSI  :

http://www.antara.co.id/
http://asterweb.jpl.nasa.gov/
http://ceos.cnes.fr:8100/cdrom- 00/ceos1/datapic/jers_sar/jerssar.htm
http://cs.space.eads.net/sp/SpacecraftPropul sion/Showcase/Terrasar_x.htm
http://earth.google.com/gallery/index.html
http://en.wikipedia.org/wiki/TerraSAR-X
http://en.wikipedia.org/wiki/European_Space _Agency
http://en.wikipedia.org/wiki/Russian_Federal_ Space_Agency
http://ilrs.gsfc.nasa.gov/satellite_missions/lis t_of_satellites/tsar_general.html
http://modis-land.gsfc.nasa.gov/
http://modis-ocean.gsfc.nasa.gov/
http://modis-atmos.gsfc.nasa.gov/
http://modis-250m.nascom.nasa.gov/cgibin/ QA_WWW/newPage.cgi
http://modarch.gsfc.nasa.gov/about/
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_1.html 54
http://reference.howstuffworks.com/russianaviation- and-space-agency-encyclopedia.htm
http://svs.gsfc.nasa.gov/vis/a000000/a003100/ a003125/index.html
http://terra.nasa.gov/About/
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/7/7Rka_logo.jpg
 http://volcano.und.edu/vwdocs/current_volcs /ikonos/ikonos.html
http://www.globalsecurity.org/military/world/i ndonesia/aceh-andamantsunami_ comp13.htm
http://www.innovativegis.com/basis/primer/concepts.html
http://www.lapanrs.com/SMBA
http://www.lapanrb.org/
http://www.lapan.go.id
http://www.lapanrs.com/YANSA/BCLS7/full_l andsatcoverage.htm
http://www.ccrs.nrcan.gc.ca/radar/airborne/c xsar/sbgeol_e.php
http://www.ccrs.nrcan.gc.ca/radar/geo/sarma p/index_e.php
http://www.dlr.de/en/desktopdefault.aspx/tabi d-4313/6950_read-10126/
http://www.crisp.nus.edu.sg/coverages/Mera pi/index.html
http://www.satimagingcorp.com/satellitesensors/ spot-5.html55
http://www.satimagingcorp.com/satellitesensors/ ikonos.html
http://www.satimagingcorp.com/satellitesensors/ formosat-2.html
http://www.satimagingcorp.com/satellitesensors/ alos.html
http://www.satimagingcorp.com/svc/mining.h tml
http://www.spotimage.fr/web/en/977-- formosat-2-images.php







Tidak ada komentar:

Posting Komentar